Jumat, 24 Desember 2010

Konflik Antarmanusia dalam novel Mahabarata Karya R.K. Narayan

          
                                                              WA JUMALIA
                                                                A1D1 07133
                                                e-mail : wa.jumalia@yahoo.co.id
Abstrack
The purpose of this research is to get clear and all of understanding about Human’s Conflict Others Told in The Mahabharata’s Nonel by N.K. Narayan. This research  use qualitation approach  with technic analisys descriptif  qualitation. Result of this research  showed that Mahabharata’s nnovel by N<K< Narayan have human’s conflict each other  abouy contention right authority of governmental area in Astina country between Kurawa and pandawa Lima. The climax is war Bharathayuddha in medan Kurusetra during eighteen days. Suggestion for this research is mmust  be priority on continue research and toughtfull for the novel especially  the novel’s by R.K. Narayan. Because this research  just told about  human’s conflict each other , so we can knew and understand about all of the story especially about element’s intinsict of The Mahabharata nnovel.
Kkeyword: conflict, human’s conflict each other, novel, actor. 



PENDAHULUAN


Sastra adalah roh kebudayaan.  Ia lahir dari proses yang rumit, kegelisahan Sastrawan atas kondisi masyarakat dan dan terjadinya ketegangan atas kebudayaannya, sastra sering juga ditempatkan sebagai potret sosial.  Ia mengungkapkan kondisi pada masyarakat tertentu. Ia dipandang juga memancarkan semangat zamannya.  Dari sanalah, sastra memberi pemahaman yang khas atas situasi sosial, kepercayaan, ideology, dan harapan-harapan individu yang sesungguhya mempresentasekan kebudayaan bangsanya (Mahayana, 2007: 21-22).
Karya sastra secara mendasar adalah system semiotic yang kompleks, yang masing-masing bagiannya menentkan  makna dan nilai dari keseluruhan sistem itu, dan justru karenanya tidak ada satu bagian pun yang dapat diabaikan ( Teeuw, 1984: 43 dalam Udu, 2008: 5 ).
Kemampuan pengarang untuk memilih dan membangun konflik melalui berbagai segi struktur, baik itu aksi maupun kejadian akan sangat menentukan kadar kemenarikan cerita yang dihasilkan, misalnya peristiwa kehidupan manusia yang saling berkaitan satu sama lain dan menyebabkan terjadinya konflik.
Konflik merupakan kejadian yang tergolong penting dan merupakan unsur yang esensial dalam pengembangan plot.  Konflik juga merupakan salah satu fenomena kehidupan menjadi hal yang sangat penting sebagai sebuah dasar cerita.  Konflik menyarankan pada pengertian sesuatu yang terjadi yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan atau dialami oleh tokoh-tokoh cerita yang jika tokoh-tokoh itu mempunyai kebebasan untuk memilih, ia (mereka) tidak akan memilih dan fitzgerald (dalam nurgiantoro: 1975: 27)
Novel Mahabhrata merupkan novel karya R.K.Narayan.  Adalah salah seorang penulis terkemuka yang sekarang masih berkarya di india..  Novel ini mengandung konflik yang sangat menarik, utamanya konflik antarmanausia.
Dalam Novel Mahabhrata, konflikm tentang masalah-masalah kemanusiaan perlu dicari dan dipahami dengan cara mengadakan sesuatau penelitian agar dapat dipahami.  Konflik antarmanusia yang disajikan R.K. Narayan lewat karyanya Novel Mahabhrata menarik untuk dikaji.
Penelitian ini berusaha mengungkap konflik antarmanusia dalam novel Mahabarata karya R.K. Narayan melalui pertanyaan bagaimana konflik antarmanusia dalam novel Mahabarata karya R.K.Narayan? Pertanyaan mendalam seperti itu diharapkan melalui penelitian ini  ditemukan bentuk konflik antarmanusia dalam novel Mahabarata karya R.K. Narayan.
    Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan konflik antarmanusia dalam Novel Mahabhrata karya R.K. Narayan?

Kajian literatur
    Defenisi Konflik
Konflik diartikan sebagai pertentangan yang dapat terjadi antarmanusia seseorang dengan sesorang, atauseseorang dengan  kelompok dan biasanya terjadi antar pihak yang mempunyai tujuan sama, dimana salah satu pihak atau kedua belah pihak diinginkan (Anraks, 1992:42)
Konflik adalah sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertentangan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan aksi dan aksi balasan (Wellek  dan weren.1989:285)
    Jenis-jenis konflik
Konflik digolongkan kedalam 3(tiga) jenis konflik, yaitu :
a)    Konflik alam
Konflik alam ini biasanya muncul tatkala tokoh tidak dapat mengusai atau memanfaatkan serta membudidayakan alam sekitarnya kemudian menjadilah konflik itu (Sayuti, 1997:126)
Konflik alami biasanya disebabkan adanya perbenturan antara tokoh dengan lingkungan alam misalnya konflik atau permasalahan yang dialami seorang tokoh akibat adanya banjir besar, kemarau panjang, gunung meletus, dan sebagainya (Murgiantoro, 1995:124)
b)    Konflik bathin
Konflik bathin adalah konflik yang terjadi dalam hati, jiwa seorang tokoh cerita.  Jadi ia merupakan konflik yang dialami manusia dengan dirinya sediri, ia lebih merpakan permasalahan intern seorang manusia.  Misalnya, hal ituterjadi akibat adanya petrtentangan antara dua keinginan, keyakinan, pilihan yang berbeda, harapan-harapan, atau masalah-masalah lainya (Nurgiantoro, 1995 :124(
Konflik bathin adalah terdapatnya dua macam dorongan atau lebih, yang berlawanan atau bertentangan satu sama lain, dan tidak mungkin dipenuhi dalam waktu yang sama (Darajat, 1983:26).
c)    Konflik antarmanusia
Konflik antarmanusia adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial antaramanusia, atau masalah yang muncul akibat hubungan antarmanusia. Misalnya berwujud masalah perburuhan, penindasan, percekcokan, peperangan atau kasus-kasus hubungan lainnya (nurgiantoro, 1995:1420.
Konflik antarmanusia adalah konflik anatar orang-orang atau orang dengan masyarakat.  Konflik jenis ini sering disebut social conflic “konflik sosial” yang biasanya konlik tokoh cerita dalam kaitannya dengan permasalahn-permasalahan sosial.  Masalah-masalah social merupakan masalah yang kompelks.  Oleh kaena itu, jika manusia tidak dapat segera mencarikan jalan keluarnya dapat menimbulkan konflik.  Konflik ini timbul dari sikap individu terhadap lingkungan sosialnya mengenai beragai masalah, misalnya pertentangan ideology, konflik keluarga, konflik social, dan sebagainya (Suminti, 1997:26)
    Jadi, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan konflik antarmanusia dalam penelitian ini adalah suatu pertentangan secara fisik antarmanusia karena sesuatu hal yang mungkin saja bertentangan, dapat berupa peperangan, perkelahian, pertengkaran, perebutan kedudukan, dan sebagainya.
    Konflik dalam prosa fiksi
Konflik dalam suatu cerita pasti bersumber pada suatu kehidupan.  Oleh kaena itu, pembaca dapat terlihat   secara emosional terhadap apa yang terjadi dalam cerita. Pemabaca bukan semata-mata sebagai penonton yang menjadikan peristiwa atau adegan demi adegan tetapi iapun dibangkitkan emosinya untuk kemudian dibawa kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi.
    Menuut Stanton (1965:16) dalam Wahid, 2004:91) . Bentuk konflik sebagai bentuk kejadian, dapat dibedakan dalam kedua kategori, Yaitu (a) Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu yang diluar dirinya, mungkin dengan lingkungan alam, mungkin dengan lingkungan manusia, dan (b) Konflik internal adalah konflik yang terjadi dalam hati, jiwa seorang tokoh cerita. Kedua konflik tersebut saling barkaitan.  Artinya, konflik-konflik itu dapat sekaligus terjadi dan dialami tokoh cerita dalam waktu bersamaan.

    Kedudukan konflik dalam Plot
Konflik dapat terjadi juga dalam tiap cerita, baik tahapan permukaan (eksposition), tahap pertikaian (inciting force) dan (ricing action), perebutan (critic), tahapan puncak (klimaks), tahapan peleraian (falling action), dan tahap penyelesaian.
Pada tahapan permukaan konflik biasanya hanya berupa pancingan terhadap masalah yang akan dipaparkan, sedangkan konflik yang sebenarnya dapat terlihat pada tahapan pertikaian, perumitan, dan klimaks.

Metodologi penelitian

    Sasaran penelitian ini adalah Novel Mahabrata karya R.K. Narayan.  Penelitian ini dilakukan dalambingkai pendekatan kualitatif.  Teknik analisa data yang digunakan ialah analisis deskriptif kualitatif  yaitu menguraikan dan menginterpretasikan data berdasarkan apa yang ditemui dalam penelitian.  Data dideskripsikan dalam bentuk kata-kata atau kalimat.
    Sumber data utama penelitian ini adalah Novel Mahabrata karya R.K.Narayan mengenai konflik antarmanusia yang terkandung didalamnya.  Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan menempuh tiga tahap, yaitu: (a) Pencarian sumber data, (b) Menentukan secara purposive data yang akan dianalisis, dan (c) Analisis teks berdasarkan analisis deskriptif  kualitatif

Pembahasan

    Konflik antarmanusia dalam Novel Mahabrata karya R.K. Narayan menggambarkan tentang sengketa hak pemerintahan Negara Astina.  Puncak konflik ini adalah pecahnya perang Bharatayudha di padang Kurusetra selama delapan belas hari.  Konflik antarmanusia dalam novel ini terjalin dengan baik dan saling berhubungan antar konflik tokoh yang satu dengan yang lainnya.
    Konflik antarmanusia berawal dari konflik Santanu (Raja  Astinapura) dengan Gangga (istri santana). Yang dilatarbelkangi ketidakberterimaan hati santanu kepada  perlakuan keji Gannga terhadap bayi-bayi yang dilahirkannya.
Dapat dilihat pada kutipan berikut.
“Ini terlalu mengerikan. Hentikan (Narayan, 2004: 2)
Kutipan diatas menggambarkan suatu sikap santana untuk menghentikan perlakuan keji Istrinya terhada[ bayi-bayinya yang selalu dibuuhnya pasca kelahiran bayi-bayi itu.  Dari sikap tersebut berdampak pada santanu berpisah dengan gangga karena telah melanggar janjinya kepada Gangga seebelum menikah bahwa dia tidak akan sepenuhnya memberikan kebebesan kepada Gannga untuk melakukan apa yang disukainya.
    Selanjutnya, terjadi konflik anatara Bhisma (putra santanu Gangga) dan setyawati (ibu tiri Bhisma) yang dilatarbelakangangi oleh setyawati kepada Bhisma demi kepentingan rasnya.
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Aku ibumu,kau mentaati perintahku.  Berikan keturunan kepada menantuku yang cantik itu.  Naiklah ke atas singgasana dan perintahlah Hastinaputra.  Sekarang tersrah kau mengusahakan agar ras kuru jangan sampai lenyap.  Kau punya kewajiban kepada moyangmu dan kepada generasi masa depan”. (Narayan, 2004: 6-7)
Keinginan ibu tirinya itu ditentang  luas oleh bhisma.
Kutipannya  sebagai berikut:
“Tidak, tidak,tidak,aku tidak bisa melanggar sumpahku, bahkan jika mau  ibu menghukumku ibu harus memikirkan cara lain”. (Narayan, 2004: 7).

Kutipan diatas menggambarkan keteguhan hati Bhisma terhadap tetap memegang sumpahnya walau apapun terjadi terhadap dirinya.
Konflik antara Arjuna dan Karna, yang dilatarbelakangangi oleh kejengkelan Arjuna terhadap sikap ketidaksoapanan Karna.
Dapat dilihat pada  kutipan berikut:
“Kau pengacau, kau dating tanpa diundang, tanpa tata tertib, dan aku akan memperlakukanmu persis seperti apa yang seharusnya diterima oleh seorang pengacau yang tidak sopan”. (Narayan, 2004:21).
Kutipan diatas mengggambarkan jiwa Arjuna dimana ia menerima tantangan karea untuk bertanding dengannya, serta ingin memberikan pelajaran terhadap Karna yang mengaau di arena kerajaan Hastinapura.
    Konflik Drona Dropada, yang dilatarbelakangangi oelh keangkuhan dan kesombongan dropada terhadapa Drona sahabat lamanya. 
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Siapa kau ? apa yang kau inginkan?” (Narayan. 2004: 24)
“Oh, orang malang, apa kau tidak menyadari bahwa tidak mungkin ada persahabatan dianatara orang-orang yang statusya berbeda? Bagaimana mungkin seorang Raja menjadi teman seorang miskin, seperti kau? Nyata-nyata kau dating untuk minta sesuatu.  Seperti kau seorang brahmana melarat, tetapi jangan minta jadi sahabatku, itu tidak mungkin. Ambil hadiah itu dan pergilah.
            (Narayan, 2004: 24).

Kedua kutipan diatas menggambarkan sikap angkuh seorang raja Dropana yang tega melupakan persahabatannya dengan Drona sejak kecil, serta menghina  Drona hanya karena Drona seoRng brahmana yang hidupnya melarat.  Sungguh sikap tersebut tidaklah manusiawi.
    Konflik natar Bhismasena dan Baka (raksasa) dilatarbelakangangi oleh kebengisan Baka yang merisaukan masyarakat kota ekacakara.
Dapat dilhat pada kutipan berikut;
“…Aku tau kau akan memakanku, Setan.  Kamu perlakukan mereka yang mengantar makanan seakan mereka itu lauk nasimu.  Ketahuilah, kau tidak bisa berbuat seperti itu lagi…”(Narayan, 2004: 39).

Kutipan diatas menggambarkan bahwa jiwa ksatria seorang Bhimasena, dimana ia ingin menolong masyarakat kota ekacakara dengan menantang dan memusnahkan raksasa yang bengis itu.
    Konflik anatara panadawa lima dan peserta sayemabara (dari kasta ksatria), dilatarbelakangi oleh ketidakberterimaan para peserta sayemabara terhadap kemenangan Arjuna (yang berpenampilan seperti brahmana) atas diri.
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Kita ditipu.  Bagaimana mungkin seorang brahmana memenangkan penganting dari kasta ksatria? Kita tidak bisa menerima itu, kita akan membunuh raja Dropada dan membawa pergi gadis itu.(Narayan, 2004: 44)

Kutipan diatas mengambarkan bahwa orang dari golongan ksatria tidak menerima seorang brahamana memperistri seorang perempuan dari kasta ksatria.
    Konflik Kunti (ibunda Arjuna) Arjuna yang dilatarbelakangi oleh ketidakberteriamaan hati kunti terhadap keingina Arjuna untuk membagi drupadi kepada keempat saudaranya (Yudistira, Bhimasena, Nakula dan Sadewa)
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Suatu saran yang gegabah tidak perlu diperpangjanglebarkan kau membuat ibu merasa amat sedih dan bersalah anakku.  Jangan sekali-sekali menyarankan kekejaman semacam itu.  (Narayan, 2004 : 46)

Kutipan diatas menggambarkan tokoh Arjuna ingin membagi dropadi kepada saudara-saudaranya yang lain.
    Konflik anatar Raja Dropada (ayah dropadi) dan yudistira dilatarbelakangi oleh ketidakberterimaan hati Raja dropada terhadap  pernyataan yudistira mengenai drupadi harus menikah dengan pandawa lima.
Dapat dilihat pada kutipan berikut;
“Seorang laki-laki boleh punya banyak istri, tetapi seorang perempuan yang banyak suami belum pernah disetjui dimana saja, dalam praktek politik maupun dalam kitab suci.  Ini sesuatu yang tidak pernah mendapata persetjuan dari kalangan apa saja.  Seorang lelaki suci seperi Kau terpelaja dan berbekal pengetahuan tinggi kekuatan apa yang mempengaruhimu sampai bicara seperti itu?” (Narayan, 2004: 48)

Dari kutipan diatasmenggambarkan bahwa tidak diperkenankan bagi seorang perempuan menikah lebih dari satu lelaki sekaligus dan juga tidak terdapat dalam kitab suci manapun.
    Konflik Sangkuni dan Yudistira dilatarbelangi oleh tuduhan sangkuni terhadap yudistira
Dapat dilihat pada kutipan berikut;
“Bhimasena dan arjuna, mereka putar-putra ibumu, sementara dua tadi hanya putra ibu tirimu Madrim yang bisa kau ambil untuk kau pertaruhkan…..” (Narayan, 2004: 74).

Pernyataan sangkuni diatas disangkal oleh yudistira dan membuat amarahnya bangkit
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Pikiranmu busuk sekali !Kau menuduhku bersifat pilih kasih, dan beusaha menimbulkan perpecahan diantara kami….” (Narayan, 2004: 74).

Kutipan diatas menggambarkan sikap Satria seorang Yudistira. Dimana digambarkan dia tidak membeda-bedakan saudaranya dan selalu bersikap bijaksana.
    Konflik antara duriana dan widura dilatarbelakangi oleh ketidaksenagan hati duryuna atas nasehat widura mengenai pemberhentian permainan dadu antaar Sangkuni dan Yudistira.
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Paman widura, selalu mengaunggulkan musuh kami dan mencela putra-putara Destarastra, yang telah member naungan dan makan kepada paman.  Aku hanya mengkuti kata hatiku yang memberi penagarahan untuk melakukan ini atau itu.  Dan aku tidak merasa melakukan kesahan.  Paman ikuti saja kata hati paman dana aku akan mengikmuti kata hatiku, bahkan jika itu menyebabkanku memasuki jurang kehancuran.  Jika kami tidak memuaskan suasana hatimu, paman boleh saja meninggalkan tempat ini. (Narayan, 2004: 730.

Kutipan diatas menggambarkan keegoisan, dan ketamakan duryuna yang menginnginkan kehancuran pandawa lima, serta ingin merebut wilyah kekuasaan yudistira.
    Konflik widura dan duryuna dilatarbelakangi oleh kelancanagan duryudana mengmbar kata yang tak pantas.
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Pergilah dan jemput istri tercinta panadawa lima itu.  Suruh dia mempelajari tugasnya menyapu kamar para pria bangsawan dan bagaimana member mereka kenikmatan…..Pergilah, bawa dia ...(Narayan, 2004: 76).

Perintah Duryudana itu diabaikan Widura dan mencacimakinya
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Kau srigala dalam bentuk manusia, jangan bicara.  Kau tengah membangunkan macan.  Saat kehancuran dimulai, itu akan menyeluruh, disebabkan oleh au dan ayahmu yang sememena-mena dan sembrono.  Bahkan sekarang belum terlambat….jangan mengucapkan kata-kata penuh dosa dan tidak bertanggung jawab seperti itu ….” (Narayan, 2004: 76).

Kedua kutipan diatas menggambarkan sosok tokoh Duryudana yang tidak berprikemanusiaan dan melecehkan kaum perempuan.  Keberadaan perempuan hanya dipandang sebagai alat penghibur, dan pemuas nafsu belaka.
    Konflik antara dursasana dan Drupadi dilatarbelakangi oleh kebejatan Dursasana terhadap Drupadi.
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Kamu datang bulan atau tidak, pake selembar kain atau telanjang, kami tidak peduli kami sudah memenangkan kau secara jujur dan kau budak kami. ‘(Narayan, 2004: 78).
Kutipan diatas menggambarkan kebejatan sikap seorang lelaki terhadap perempuan yang semestinya seorang lelaki adalah pelindung bagi kaum perempuan, dan menghormati kaum  perempuan.
    Konflik drupadi dan seluruh hadirin di pendapa, dilatarbelakangi oleh adanya perlakuan yang tidak adil terhadap dirinya.
Dapat dilihat pada kuitipan berikut:
“Ini mengerikan apa moralitas sudah hilang ?kalau tidak bagaimana kalian memandang kekejaman ini ? Ada suami-suamku disini-5 bukan satu seperti bagi orang lainnya-dan mereka tampak lumpuh ! meski tadi aku berharap bhimasena sendiri yang bisa menghancurkan para pelaku tindakan mengerikan ini, hanya dengan ibu jarinya, au tidak mengeri mengapa mereka berdiri disana, diam saja, tidak bicara apa-apa, dan bagaikan orang dungu….”(Narayan, 2004: 78).
Kutipan diatas menggambarkan bahwa sosok tokoh drupadi yang mencari keadilan atas dirinya, dimana telah diperlakukan begitu kejem kelima pandawa, suaminya yang harus menjai pelindungnya tidak dapat member keadilan baginya dan tak bisa berb uat apa-apa.
    Konflik Bhmasena dan Yudistira dilatarbelakangi oleh sikap ketidakadilan Yudistira terhadap Drupadi.
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Yudistira, ada banyak “ Penjudi lain di dunia, beribu-ribu orang.  Bahkan yang terburuk diantara mereka tidak pernah berpikir akan mempertaruhkan seorang wanita, tetapi dalam hal ini kau melebii Yang lainnya.  Kau telah mempertaruhkan semua wanita yang melayani kita, dan juga istrimu tanpa pikir panjang aku tidak berkeberatan kau kehilangan semua harta kekayaan dan permata yang kita miliki, tetapi apa yang telah kau lakukan pada mahluk urni ini ? pandanglah kesedihannya sekarang….”( Narayan, 2004: 80 ).
Kutipan diatas mengambarkan suatu perbuatan yabg dilakukan untuk kepentingan sendiri dengan melibatkan orang lain demi kepentingan itu.  Seperti yang digambarkan pada tokoh Yudistira yang telah mempertaruhkan drupadi serta keempat saudaranya dalam permainan dadu, yang menyebabkan kesedihan drupadi dari sikap Yudistira yang demikian itu drupadi kian menjadi bulan-bulanan kurawa dengan merenggut sari yng dikenakan drupadi oleh Dursasana.  Peristiwa itu, membuat drupadi meretap atas nasib yang menimpanya.  Namun keajaiban, dating kepadanya untuk menyelamatkannya dari ketidakadilan itu.  Sungguh sangat menyedihkan sekai apabila kaum perempuan dilecehkan dan diperlakukan begitu keji oleh kaum laki-laki yang mana kodrat seorang perempuan sebagai mahluk lemah yang tak berdaya  perlu mendapat perlindungan dari kaum lelaki.
    Berangsur pada konflik Drupada dan karna, dilatarbelakangi oleh sikap karna yang memandang rendah drupadi.
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Oh, Sicantik Jelita, para mantan pangeran itu sudah tidak punya hak lagi atas dirimu, budak tidak bisa punya hak.  Sekarang masulah ke kamar-kamar bagian dalam dan mulailah melayani kami.  Seperti kami perintahkan……” (Narayan, 2004: 83).
Kutipan diatas mengambarkan bahwa tokoh Drupadi dianggap seperti perempuan jalang atau pelacur.
Lalu konflik berangsur antara Widura dan Raja Destaratra, dilatarbelakangi oleh skap raja destaratra yang tidak teguh pendirian dan ketidakbijaksanaannnya terhadap keluarga panadawa.
Dapat dilihat pada ktipan berikt:
“Hentikan semua pembicaraan mesum ini, Oh Raja.  Meskipun disini mereka nyata-nyata berdiri dalam penderitaan, mereka dilindungi dewa “(Narayan, 2004: 83).
Kutipan diatas menggambarkan bahwa sebuah penderitan tidak selamanya berbuah keburukan, sewaktu-waktu akan dating kebaikan dan mukjizat atasanya. 
    Konflik Dursasana dan Brahmana dilatarbelakangi oleh sikap Dursasana yang memandang hina Pandawa lima
Dapat dilihat pada kutipan berikut:

“Ayahandamu sudah merencanakan suatu kehidupan terhormat bagimu, dan sekarang kau jatuh ketangan para pengemis.  Apa yang bisa mereka lakukan buatmu kalau mengenakan baju kulit Rusa dan mengemis? Ini saatnya bagimu untuk memilih seoreang suami yang layak dari para bangsawan yang berkumpul disini, seorang yang tidak bakal menjualmu.  Kelima bersaudara itu sekrang bagai daun tak berbiji…..”(Narayan, 2004: 87).
Pernyataan itu membuat bhimasena berang.
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Kau menusuk-nusuk hati kami dengan kata-kata itu; Aku berjanji akan menusuk hatimu dengan panah yang sebenarnya, saat aku mengingatkan kau akan kata-kata tersebut…”(Narayan, 2004: 87).
Berangsur dari konflik Bhimasena dan duryudana yang dilatarbelakangi oleh sikap Duryudana yang mengejek pandawa lima.
Dapat dilihat pada kutripan berikut;
“Oh, Sapi,sapi. “ (Narayan, 2004: 87).
    Bhimasena tidak bisa menerima perlakuan itu dan berjanji akan membalas dendam kepada Duryudana.
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Kau tidak dapat apa-apa dengan melawak seperti itu.  Kami semua akan mengingat ini pada saat aku menghancurkan pahamu dengan gadaku dan menginjak-injak kepalamu.”(Narayan, 2004: 87).
Kutipan diatas member gmbaran akan terbuktinya pernyataan itu pada puncak perang bharatyudha digurun kurusetra.
    Konflik Raja Destarastra dan Widura dilatarbelakangi oleh widura yang selaluk mengucilkan kurawa.
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Widura, kau selalu kurang ajar. Kau membenciku dan anak-anakku kau memihak kepada panadawa dan selalu ingin melakukan sesuatu yang menyenangkan untuk mereka. “(Narayan, 2004: 93).
Kutipan diatas menggambarkan ketidaksenangan hati Destarastra terhadap Widura yang mengucilkan Kurawa, hingga berbuntut pada pengusiran Widura oleh Raja dan kerajaan.
    Konflik antara Resimatreyi dan Duryudana dilatarbelakangi oleh  ketidaksenangan hati Matreyi terhadap sikap Duryudana yang mengabaikan nasehatnya untuk berdamai dengan Pandawa.
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
“Kalau tiba saatnya, kau akan memetik buah dari keangkaraanmu dan Bhimasena akan menyobek pahamu, yang sekarang kau tampar dengan berani” (Narayan, 2004: 96).
    Konflik Drupadi dan Yudistira yang dilatarbelakangi oleh ketidaksenangan Destarasta terhadap sikap Duryudana yang bersikeras menantang perang panadawa.
Dapat dilihat pada kutipan berikut:
    Konflik anatar Yudistira dan Drupadi dilatarbelakangi oleh sikap drpadi yang menghujat dewa.
Dapat dilihat pada kutipan berikut;
“...Dewa yang perkasa itu menciptakan ilusi-ilusi dan membuat setiap mahluk membinasakan sesamanya. Sangyangwidi menikamti itu semua bagaikan seorang anak kecil meremas dan membentuk tanah liat menjadi boneka.  Terkadang perilaku Dewa itu membingunkan ia menyaksikan orang-orang bijak dan agung dihukum dengan amat kejam, tetapi membiarkan pendosa tetap makmur dan bahagia.  Aku sungguh bingung dan pusing.  Menyaksikan kakanda dalamkeadaan ini dan Duryudana makmur sejahtera, aku tidak bisa terlalu  menghargai kebijaksanaan atau keadilan Dewa.  Jika Dewa adalah pengarang yang sebenarnya dari adegan-adegan tersebut.  Dia sendiri arus bertanggung Jawab atas dosa setiap mahluk” (Narayan, 2004: 100).
Pernyataan Drupadi itu membuat Shyok Yudistira
Dapat dilihat pada kutiupan berikut:
“Kau bicara dengan sangat lancar, tetapi bahasamu adalah bahasa seorang atheis.  Aku tidak bisa menukar tambah kabajikan seperti barang dagangan, menimbang untung ruginya.  Aku melakukan apa yang kelihatannya betul hanya karena itu jalan satu-satunya, dan bukan karena akibatnya.  Mengecam Dewa itu tidak benar, kekasih.  Jangan menghujat Dewa.  Belajarlah mengenal-NYA, pahami maksudnya hormati dia.  Hanya melalui kesalahn kau bisa mencapai keabadian.” (Narayan, 2004: 100).
Kutipan diatas menggambarkan sikap Yudistira yang selalu teguh pendirian dan bijaksana.  Apapun yang menimpa dirinya selalu diterimanya dengan hati lapang.
Konlfik antara Arjuna dan urwasi ( Pelacur khayangan ) dilatarbelakangi ketidakbertemuan Urwasi yang telah ditolak cintanya oleh Arjuna,Ratu mengutuknya.
Dapat dilihat pada kutipan berikut.
“ Karena kau telah melecehkan seorang wanita yang sudah diperintahkan oleh junjungannya dan ayahandanmu untuk menyenangkan kau, semoga kau lewat ditengah para wanita tanpa diperhatikan dan dianggap sebagai seorang banci,”(Narayan, 2004: 105)
Konflik antara Raja Destarastra dan Duryudana yang dlatarbelakangi oleh kebencian raja Destarastra terhadap sikapa duryudana yang menantang berperang Pandawa.
Dapat dilihat pada kutipan berikut.
“Astaga, mengapa aku memiliki seorang putra yang cukup gila sampai ingin bertempur ingi melawan Yudhistira,Arjuna,Bhima! Duryudana, kembalikan bagian sah mereka.setengah dunia adalah kerajaan yang cukup buatmu.Bhisma,Drona,aswatama,Satya,yang sudah berjanji mendukungmu,tidak menyetujui apa yang akan kau lakukan…..” ( Narayan, 2004: 162)
Kutipan diatas menggambarkan kepanikan Raja Destarastra atas perang yang akan terjadi antara pandawa dan Kurawa.
Konflik antara karna dan Bhismadilatarbelakangi oleh kesombongan karna atas senjata ampuh yang dimilikinya.
Dapat dilihat pad kutipan berikut.
“Aku punya Brahma Astra senjataku, kuperoleh pasurama,yang memberikannya kepadaku dengan persyaratan tertentu Aku bisa meggunakan senjata ini embasuri Pandawa bersaudara sendirian.”(Narayan, 2004: 163)
Pernyataan karna dipatahkan oleh Bhisma.
Dapat dilihat pada kutipan berikut.
“Pikirannmu gelap oleh kesombongan karnakau dan senjata-senjatamu akan remuk kalau Krishna memutuskan untuk menyerang.”(Narayan. 2007: 162)
Kutipan diatas menggambarkan bahwa suatu keangkuhan dan kesombongan akan menbawa malapetaka bagi yang menganutnya.
Konflik antara Duryadan dan Krishna dilatarbelakangi oleh ketidaksenangan hati Krishna sikap Duryadan yang tidak atas ap yang menimpa pandawa lima.
Dapat dilihat pada kutipan berikut.
“Oh, hati nuranimu sudah tumpul .kau mengira tdak melakukan kesalahan –biarlah orang-orang terkermuka yang bekumpul disini menilai…”(Narayan, 2004: 174)
Kutipan diatas menggambarkan sikap angkuh seorang Duryadana yang tidak mengakui kesalahan,sertasikap keangkaramurkaannya.
Konflik antara Duryudana  dan Destarastra dilatarbelakangi oleh ketidaksatriaan Duryadana yang berniat menawan Krishna demi kepentingannya.
Dapat dilihat pada kutipan berikut.
“ Kita akan menjadikannya tawanan…kehormatan.kalau dia dipenjara,ppandawa akan kalah dan menjadi budak kita.sekarang, jika kau ingin menasehati katakana kepadaku cara terbaik  untuk mencapai tujuanku tanap menimbulkan kecurigaan krisnakalau ia tiba disini besok pagi.”(Narayan, 2004: 171)
Pernyataan Duryadan ditantang oleh Destarastra.
Dapat dilihat pada kutipan berikut.
“ Jangan pernah bicara seperti itu lagi.ia dating sebagai seorang Dutadan tidak mencelakai siapapun.setan gentayangan apa yang masuk ke dalam pikiranmu! “(Narayan, 2004: 171-172)
Kutipan di atas menggambarkan bahwa Destarastra menentangkeinginan putranyasebab sikap seperti itu tidak menunjukkan siakap kesatria dari seorang kesatria.
Konflik antara Yudistira dan Duryudanadilatarbelakangi oleh sikapa ketidaksatriaan seorang duryudana.
Dapat dilihat pada kutipan berikut.
“ Apa kau tidak malu menyembunyikan diri dibawah air sekarang,setelah kau menybabkan kehancuran seluruh ras kita? “(Naraya,2004:203)
Kutipan di atas menunjukkan ketakutan seorang Duryudana untuk melawan pasukan Pandawa setelah seluruh pasukannya meninngalkan dirinya.serta menunjukkan sikap ketidaksariaan yakni menyembunyikan diri dari medan pertempuran.
Pada tahap akhir setelah selesai perang Bharatayuddha yang menyebabkan kemenangan di pihak Pandawa dan musnahnya/gugurnya Kurawa membuat Gandhari bersedih.Gandhari menyalahkan Krishna atas kematian anak-anaknya.Artinya,terjadi konflik antara Gandhari dan Krishna yang dilatarbelakangi oleh ketidakberterimaan hati Gandhari terhadap campur tangan Krishna yang menyebabkan kematian putra-putranya.
Dapat dilihat pada kutipan berikut.
“ Apa kau sekarang bahagia melihat kami semua dalam keadaan ini.kelicikanmu telah membawa kesedihan besar inidalam keluarga kami.kamu telah melakukan kejahatan keji terhadap anak-anakmu. (Narayan, 2004: 208)
Kutipan di atas menggambarkan betapa besar cinta seorang Gandhari terhadap anak-anaknya sekalipun anak-anaknya yang telah menciptakan kehancuran rasnya sendiri.
               





PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dari penelitian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
•    Konflik antarmanusia dalam novel Mahabarata karya R.K.Narayan pada awal cerita telah dimunculkan sekedar pancingan untuk menjalin peristiwa dengan baik dalam cerita yakni berawal dari adanya konflik tokoh Santanu dan Gangga.
•    Konflik antarmanusia dalam Novel Mahabarata karya R.K.Narayan berorientasi pada sengketa hak pemerintahan negara Astina, kerajaan Hastinapura yang mencapai puncak pecahnya perang Bharatayuddha di antara Pandawa dan Kurawa di gurun Kurusetra selama delapan belas hari.
•    Konflik antarmanusia dalam Novel Mahabharata karya R.K.Narayan berakhir dengan kemenangan bagi Pandawa dan kekalahan bagi Kurawa,dan hak pemerintahan atas kerajaan Hastinapura jatuh di tangan Pandawa.

Saran
Perlu adanya penelitian lebih jauh terhadap novel utamanya novel-novel R.K. Narayan karena penelitian ni hanya melihat dari segi konflik antarmanusianya saja, sehingga dapat diketahhui dan dipahami secara menyeluruh khususnya tentang unsure-unsur intrinsic dalam novrl Mahabarata karya R.K. Narayan.

DAFTAR PUSTAKA

Anoraks, Panji.  1992.  Psikologi Kerja.  PT.  Rineka Cipta.  Jakarta
Darajat, Zakiah.  1983.  Kesehatan Mental.  PT. Gunung Agung.  Jakarta
Mahayana, Maman S.  2007.  Ekstrinsikalitas Sastra Indonesia.  PT. Raja Grafindo                                  Persada.  Jakarata.
Narayan,R.K.  2004.  Mahabharata.  PT. Bentang Pustaka.  Yogyakarta.
Nurgiantoro, Burhan.  1995.  Teori pengkajian Fiksi.  PT. Gunung agung.  Jakarta.
Ratna,Nyoman kutha.  2008.  Teori, metode, dan Teknik penelitian sastra ; dari   Strukturalisme hingga postrukturalisme perspektif wacana Naratif.  Pustaka pelajar. Yogyakarta.
Sayuti,A.Suminto.  1997.  Apresiasi prosa Fiksi.  Depdikbud.
Udu, Sumiman. 2008. Sejarah Sastra : Hand Out. Unhalu : Kendari.
Wahid, Sugira.  2004.  Kapita selekta Kritik Sastra.  Jurusana Bahasa dan Sastra Indonesia dan daerah.  Universitas negeri Makassar.
Wellek, Rene dan Waren, Austin.  1989.  Teori Kesusatraan.  Gramedia.  Jakarta.







Tentang Penulis
Wa Jumalia lahir di Wandoke, kabupaten Muna.provinsi Sulawesi Tenggara pada tanggal 10 Oktober 1989. Nama akrab adalah Jum. Mengenyam pendidikan di bangku SD yaitu di SD Negeri Wandoke (sekarang SD 14 Tikep ), tahun 2001 di SMP 1 Tikep, pada tahun 2004 di SMA 1 Tikep, dan pada tahun 2007 melanjutkan studi di Perguruan Tinggi negeri di Sulawesi Tenggara yaitu di Universitas Haluoleo, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni, Program Studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah sampai sekarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar